Minggu, 18 November 2012

Cinta Tak Selalu Berakhir Manis



Aku melangkah, meskipun aku tidak tau kemana kakiku akan membawa
Aku melangkah diantara hiruk pikuk dunia
Perasaanku semakin kacau dan tak tentu arah tujuan

Ini seharusnya tidak terjadi
Aku tidak boleh seperti ini
Ini bukan seperti aku yang kukenal
Aku harus kuat

Semua orang di jalanan mulai memandangiku dengan tatapan aneh
Seandainya mereka tahu apa yang baru saja terjadi padaku
Mereka tidak akan berani menatapku dengan tatapan semacam itu

Air mataku semakin deras mengalir seiring hatiku yang tersayat mengingatnya
Tidakkah dia tau betapa berartinya dia untukku?
Lalu mengapa dia tega melakukan semua ini
Seakan aku tak berarti apapun baginya
Apakah aku memang tidak pernah berarti apa- apa baginya?

Oh, Tuhan, mengapa dada ini terasa begitu sesak?
Apakah ini benar- benar terjadi?
Sekelebat bayangan tentang kejadian tadi kembali menghantui dan menamparku

Pagi tadi, ketika aku dengan riang gembira melangkah masuk ke gedung apartemen Darren
Dengan membawa sebotol wine untuk merayakan hari jadi hubungan kami
Dengan penuh senyum dan percaya diri, aku melangkah
Tidak terbayangkan hal yang akan terjadi selanjutnya
Tidak pernah terpikir hal yang kulihat itu mungkin terjadi
aku membuka pintu apartemen Darren dengan kunciku sendiri yang diberikan olehnya
lalu aku mendengar suara wanita saat ku langkahkan kakiku ke dalam apartemen itu
apa ini.. apa yang terjadi
aku mencoba berpikir positif
aku berusaha meredam semua kecurigaanku
sampai kudengar sebuah kalimat yang membuyarkan semua usahaku

“baiklah, ini semua diluar dugaanku, aku tidak pernah menyangka ini akan terjadi. Ini luar rencana kita”
Itu suara Darren!
Lalu terdengar isak tangis seorang wanita
“sudah, hentikan tangismu itu. Aku mencintaimu, dan aku akan meninggalkan Carissa, demi kamu, demi cinta kita.. Rena”
Keterkejutan dan amarahku tidak dapat tertahan lagi
Air mata mulai menetes, bibirku gemetar menahan luapan emosi yang begitu besar
Lalu ku hampiri mereka, sejuta kata yang hendak kukatakan, berakhir hanya dalam benakku saja
Aku terlalu terkejut untuk bisa memaki mereka satu per satu
Air muka mereka menunjukkan betapa terkejutnya mereka melihatku disana
Cukup! Aku tidak tahan lagi!
Ku hempaskan botol wine itu ke lantai
Wine yang membuatku menghabiskan waktu satu jam untuk memilih wine terbaik untuk acara ini
Darren tergagap hendak menjelaskan
Aku hanya berakhir mengangkat telapak tangan kananku, memintanya berhenti bicara
Aku tidak ingin mendengar semua sampah ini

Aku berhenti melangkah, terduduk jatuh dipinggir jalan
Berusaha merangkai kembali hatiku yang berkeping- keping dihempas kenyataan
Lalu amarah menyusupi pikiranku

Dia,  Rena, sahabatku sendiri, oh tidak, mantan sahabatku!!
Beraninya dia merebut Darren, orang yang benar- benar kucintai!!
Demi Tuhan dia adalah tunanganku!!
Sahabatku yang telah kupilih untuk menjadi pendampingku di pernikahanku mengkhianatiku
Ini benar- benar di luar akal sehat
Apakah hal semacam ini mungkin terjadi?
Merusak dan mengakhiri hubungan kami di hari jadi kami
Luar biasa

Segala hal yang sudah kurencanakan dengan baik
Kehidupanku bersama Darren yang sudah ada di depan mata
Rencana pernikahan yang tinggal beberapa bulan lagi
Semua hancur lebur begitu saja
Tidak dapat lagi rasanya hatiku memaafkannya
Mengapa mereka harus menghancurkan hidupku seperti ini?
Apa yang harus ku katakan pada orang tuaku, teman- temanku?
Hubungan yang selama ini aku banggakan, yang selama ini aku jaga

Aku tidak pernah menyangka perselingkuhan ini terjadi
Aku bahkan lebih tidak menyangka lagi bahwa ini semua terjadi diantara tunangan dan sahabatku
Beraninya mereka menusukku dari belakang

“CARISSA!!!”
Belum selesai aku memaki mereka dalam hati
Kudengar sebuah suara kencang yang membuyarkan pikiranku
Aku menoleh melihat siapa yang memanggilku begitu kencang
Dia!!
Mengapa dia ada disini?!
Dia, dan wanita itu!
Ah, cukup sudah
Aku tidak tahan lagi dengan semua omong kosong ini!!

Untung apa pula mereka mengejarku
Toh aku tidak akan pernah sudi memaafkan mereka
Tidak, tidak setelah apa yang terjadi ini

Kupaksa tubuhku yang sudah letih untuk berlari lagi
Aku masih tidak tahu kemana aku akan pergi
Yang jelas, jauh dari mereka

“CARISSA TOLONG JANGAN PERGI LAGI!!”
Suara Darren kembali menggelegar
“Carissa, maafkan aku, maafkan aku”
Wanita jalang itu ternyata masih punya muka untuk bicara denganku
Huh
Simpan saja semua maafmu, aku tak butuh semua itu

Darren dan Rena masih mengejarku
2 orang yang pernah menjadi orang terdekatku
Sekarang menjadi 2 orang yang menghancurkan hatiku dalam sekejap mata
2 orang yang benar- benar aku percaya
Jika saja aku tahu ini semua mungkin terjadi, aku tidak akan pernah membiarkan mereka punya celah untuk mengkhianatiku
Yah, ini memang salahku juga, aku menaruh terlalu banyak kepercayaan pada mereka
Kepercayaan yang akhirnya mereka salahgunakan!!

Aku telah memberikan segalanya pada Darren, mengapa dia masih tega mengkhianatiku?!
Apa salahku sehingga dia sampai hati menyakitiku sedemikian rupa?
Aku sadar pikiranku memperlambat langkahku
Tapi aku tidak sadar seberapa lambat itu sampai Darren berhasil meraih tanganku
Kutepis tangannya

Seluruh persiapan pernikahan yang sudah kurancang
Ketika hari bahagia itu tinggal 2 bulan lagi, dan dia masih tega melakukan semua ini
Aku tidak habis pikir
8 tahun kita sudah bersama, dan dia masih juga tega?!
Aku tidak percaya ini

Rena, sahabatku sejak masih di bangku SMA
Dia yang tahu perjuanganku dan Darren dari awal
Dia yang membantuku selama ini merancang pernikahan ini
Dia yang begitu bahagia mendengar kabar pertunangan dan rencana pernikahanku
Dia juga tega

Darren, yang sudah dengan bangga kuperkenalkan kepada orang tuaku padahal kami baru 1 bulan berpacaran
Darren yang dengan sekejap mata mencuri hati orang tuaku
Darren yang selama ini menjadi “pangeran berkuda putihku”
Dia yang terlihat begitu sempurna.. ternyata hanya seorang munafik!
Seorang pembohong besar!

Aku sudah tidak sanggup lagi bertanya berapa lama mereka telah melakukan ini
Terlalu menyakitkan untuk kupertanyakan
Ini sudah lebih dari cukup untuk menjadi alasanku mengakhiri hubungan dengan mereka

Mereka masih berteriak- teriak memanggil namaku ketika aku akan menyebrang jalan
Aku sudah tidak ingin menggubris mereka
Aku sudah setengah jalan
Lalu Rena berteriak, “Carissa, maafkan aku, aku mencintai Darren! Dan aku hamil!!”

Aku tersentak
Shock
Seketika itu juga aku menoleh
Ingin rasanya aku merenggut wajah sok bersalah dan air mata buayanya
Tapi sebelum dapat kulakukan, sebuah mobil box datang dengan kecepatan tinggi dan merenggut nyawaku lebih dulu
Aku masih tersadar ketika nyawaku memudar
Aku melihat Darren dan Rena berusaha menyadarkanku
Untuk apa lagi mereka berusaha menyadarkanku
Sudah, biarkan aku pergi
Sudah cukup
Aku tidak sanggup lagi
Dalam sekaratku, aku masih mengumpulkan tenaga untuk menepis tangan mereka
Aku bahkan tidak lagi sudi disentuh mereka

Kudengar Darren berulang kali mengucap maaf
Dan Rena hanya menangis tersedu- sedu entah untuk apa

Lalu semuanya berubah gelap
Aku tidak menyangka detik- detik akhir hidupku akan berakhir begitu tragis
Aku kehilangan segalanya pada saat- saat terakhir hidupku
Tunanganku yang adalah calon suami idamanku
Rencana masa depan yang sudah kurancang sedemikian rupa
Rumah indah di pinggir kota yang sudah kudesign dengan sedemikian indah
Rencana pernikahan yang sudah rampung
Sahabatku sejak SMA

Ini hari terakhir, sekaligus hari terburuk dalam hidupku
Hari jadi ke 8 hubungan kami yang berakhir tragis
Sahabat terbaik yang akhirnya mengkhianatiku
Tunanganku menghamili sahabatku sendiri
Aku ingin semuanya segera berakhir

mereka pasti senang dengan kepergianku
toh setelah ini tidak akan ada yang mengganggu mereka lagi
tidak ada yang akan menentang hubungan mereka
dan tidak akan ada yang mereka khianati
dan tidak akan ada aku yang menjadi korban atas hubungan mereka
hanya mereka dan Tuhan yang akan tahu
dan alasan kematianku, akan menjadi sebuah misteri
tanpa ada seorang pun yang tahu

yang mereka tahu, aku adalah korban kecelakaan lalu lintas
yang mereka tau, hanya jasadku yang remuk redam
bukan hatiku yang telah berubah lebih dari berkeping- keping
bukan perasaan kecewa, amarah, kesedihan dan rasa depresi yang mendalam

mungkin ini yang terbaik
mungkin kepergianku ini adalah jawaban dari semuanya
toh aku tidak akan merasakan sakit hati ini lagi
dan mereka akan bahagia tanpa ada aku sebagai penghalang

orang- orang mulai berkerumun menonton aku yang tergeletak tak bernyawa di tengah jalan
mereka mulai berasumsi tentang alasan kematianku
banyak yang berkata bunuh diri
bukan
aku dibunuh
dibunuh oleh kemunafikan, kebohongan, dan perselingkuhan Darren dan Rena

harusnya aku sempat mengucapkan kata terakhir kepada mereka
selamat, selamat atas kemenangan mereka
dan terlebih untuk Rena, selamat telah berhasil merebut tunanganku

tidak ada yang abadi di dunia ini, demikian pula cinta dan persahabatan
semuanya omong kosong!
Semuanya hanya tertutupi topeng yang entah kapan baru mereka singkap
Atau.. akan tersingkap seiring dengan waktu
Tidak semua kebaikan menang, dan tidak semua kejahatan kalah

hatiku berkeping- keping saat aku melangkah menuju cahaya terang itu
lalu semuanya menjadi tenang dan damai
semuanya telah selesai…
akhirnya…


By - Melisa Wijaya.

Kamis, 04 Oktober 2012

Kutipan mini "Cinta Yang Salah"


Cinta, yang salah.

“Jaga diri kamu baik-baik ya sayang, cepat balik kesini lagi ya.” Yumi mengucapkan kalimat terakhirnya pada Ryo sembari berusaha menahan isak tangis yang tak mampu lagi dibendungnya.

“15 menit lagi sayang, pesawatnya baru berangkat, boleh aku cium kamu sekali lagi?” Ryo berusaha meraih kening Yumi dan menciumnya selembut mungkin. Selama beberapa menit, bibir Ryo masih menempel di kening Yumi. Ryo mencium kening Yumi dengan penuh perasaan haru seakan mereka tidak akan pernah bertemu lagi. 


Tulisan diatas adalah sepenggal kutipan mini dari cerpen yang akan terbit dalam sebuah buku, bersama beberapa cerpen lain dan sajak-sajak karya teman-teman penulis dari twitterland juga. 

Kemungkinan naskah akan rampung akhir bulan ini, dan InsyaAllah akan dibukukan akhir tahun. Penasaran? 
Dasar kepo! mihihihi :p

Selasa, 02 Oktober 2012

A Day Out

I was waiting outside. It was 4:38 in the evening and I thought that it was a good day. It was about to rain so I went inside a shop and tried to call but it said the phone was switched off. As we discussed that we would meet at 4:00 in the evening I was waiting impatiently.

I started looking at the clothes inside the shop. It was an old house which has been redesigned, blended with modern and old furniture. Though I liked the place I did not enjoy waiting for more than half an hour. The time was nothing but not answering the phone was worrying me a lot. I was roaming around the shop alone and it was making me more impatient. I went near the glass door and it was hard to see what was happening outside. I sat on a chair... and again stood up and went around the shop. Went up and down, one corner to another. One of the staff members in the shop asked whether I needed some help. It embarrassed me. I thought of going out of the shop.

It was windy and cold. I was desperate to meet. No three wheelers to be found. It was 5:30 and I thought of buying a book and reading it. I had no way to go home. Then again I thought of calling Amma and asked her to send the car for me.

It took a long time for me to get into the car and go home. I was angry for his not answering my calls, I was angry for his making me wait alone when it was raining so hard. Amma was scolding me for being late. I rushed to my room before Thatta could see me wet.

I did not think of losing my hope of contacting him, so I dialed the number again and again. I thought of contacting a close friend. He said that he has no idea. Called another but the reply was the same. Many things came to my mind since that was not normal at all. I wanted to forgive him and two tear drops came out at once, then I could not stop the rest.

I was all alone inside my room. Memories of our past, happy life and sad moments came to my mind as I was watching a movie. I was sitting in a place where I could see his face. My feeling for him was so much. When he smiled at me I felt like I am the only girl in this world. One would say that I was stupid, another would say that I was proud. I have no right to argue.

Coming back to the story, only we two were there in the room. He came to talk with me with a bundle of books. I was shy and I tried to ignore him. I heard someone singing, “when I see you smile….” He came inside the room with rose in hand, then another... I knew what was going to happen. Yes! That was what was exactly inside my heart. As soon as I closed my eyes a tear drop came out and he took it into his hand and said that he does not like to see my tears.

We played pool and checkers with each other most of the time. I was good at targeting since I was patient, and he was good at checkers. I always think that he is brainy. We loved going for swimming together and he loved to ride bikes. He always asked me to cover myself from a jacket as he did not want me to get dark or get burnt by the sun. He used to feed me when I was not well and…

Suddenly I heard my phone ringing. It was a call from his best friend. My eyes got closed.